Jadi Pengusaha atau Karyawan?

30 August 2014 - Kategori Blog

 

Entrepreneur Employee Street choice signs

Jadi Pengusaha atau Karyawan ?

Jadi Pengusaha atau Karyawan ? Tulisan kali ini bisa menjadi bahan pertimbangan dan perenungan sebelum mengambil keputusan tersebut.

Ny X :
“Gw capek nih dengeran cerita salah seorang member dari kota S. Tiap hari curhat, gara-gara udah resign tapi bisnisnya ga jalan-jalan alias bangkrut. Sekarang malah keluarganya terancam perceraian. Orang itu agak nyalahin komunitas yang komporin resign tanpa diberitahu resiko nya. Harusnya kasitau donk resiko resign dll, jangan cuma yang enaknya doank yang di share di komunitas. Dan banyak lho member yg bernasib sama.. gimana nih?”

Mr.Y :
“Bro, teman saya frustasi. sudah resign trus bisnis bangkrut. dia bener-bener frustasi. Sekarang dia menghidupi keluarganya dengan “jatah” dari mertuanya. Gimana nih?”

Mr. Z
“Utang jadi banyak banget..Gw nyerah nih bro.. gw mau jadi karyawan lagi. tuntutan hidup makin berat, gw butuh kepastian penghasilan…”

Menghela nafas sebentar…Bingung juga, mulai darimana ya njelasin nya

Mulai dari kapasitas saya untuk menjawab dulu deh

1. Saya belum pernah merasakan jadi karyawan/TDB atau apapun istilahnya. Karena semenjak sma sudah berdagang. Dan saya bisa merasakan beratnya perjuangan bisnis orang-orang yang sebelumnya pernah bekerja.

2. Tapi saya pernah mengalami kegagalan, kemunduran, kebangkrutan yang sama. Bahkan berkali-kali. Dan berkali-kali itu pula, alhamdulillah dengan pertolongan Allah, saya selalu bisa untuk bangkit kembali.

Oke, setelah tau kapasitas saya untuk menjawab, lanjut ya sekarang ke pembahasan.

Pertama : Menjadi karyawan tidak berarti lebih buruk dari menjadi pengusaha. Dan menjadi pengusaha, belum tentu lebih baik daripada karyawan

Mengapa?

· karena yang lebih mulia di sisi Allah adalah yang lebih bertakwa. Karyawan yang bertakwa jauh lebih baik daripada pengusaha yang korup

· gak semua pengusaha itu lebih kaya dari karyawan.. contoh : penghasilan saya saat ini tidak lebih besar dari Dirut Bank Mandiri hehe

Kedua : Pahami bahwa status pengusaha dan karyawan adalah hanya aktualisasi diri kita dalam kehidupan. Semua sama saja. Sama-sama dibutuhkan umat manusia

Bayangkan bahwa isi dunia ini adalah sebuah organisasi besar. Ada orang-orang yang bertugas menjaga keamanan (tentara/polisi), ada orang-orang yang membantu orang yang sakit (paramedic), ada yang mengatur Negara (politisi), ada pengusaha dan lain-lain.

Semuanya sama-sama dibutuhkan. Tidak ada boleh merasa lebih antara satu dan lainnya.

Ketiga : Pahami resiko

· Jadi tentara/polisi dituntut latihan fisik yang lebih. Kalo kita bukan tipe yang demikian, jangan dipaksakan ber-aktualisasi disana.

· Jadi dokter/paramedic dituntut untuk lebih empati dan sabar. Kalo kita ga nyaman ada orang yang malem-malem minta diobati, ya jangan jadi dokter

· Jadi orang teknik dituntuk hapal rumus dan kuliahnyapun susah buat lulus.

· Jadi pengusaha dituntut untuk siap profit dan siap rugi. Siap maju dan siap bangkrut. Kalo kita gak punya mental siap bangkrut, ya ga usah jadi pengusaha. Tapi ketika kita memilih menjadi pengusaha, ya terima resiko nya apapun itu. Jangan mengeluh, karena ini adalah pilihan kita. Tapi kalo memang tidak cocok, ya jadi karyawan juga ga lebih hina..

· Kata siapa pengusaha banyak waktu luang? Justru pengusaha bisa bekerja 24 jam non-stop! sekarang saat ini saya harus bekerja di depan komputer/laptop lebih dari 9 jam sehari untuk mengurusi bisnis saya awwsport.com bahkan pikiran dan hati saya 24 jam di bisnis saya, alhasil kuliahpun jadi keteteran juga, inipun sekarang sudah enak karena sekarang sudah ada 3 staff dan tim yang membantu saya untuk bagian marketing website, admin/customer service dan bagian pengiriman. saat awal mulai bisnis semua saya hajar sendiri, dari cari barang,packing barang, ngirim barang, ngurus customer alhasil saat pagi-siang hari saya sekolah itupun gagal fokus karena musti urusin orderan, siangnya cari customer, malam harinya ngirim barang. Tapi bedanya, kita mencintai pekerjaan kita jadinya tidak terasa capek. Jadi jangan bermimpi menjadi pengusaha itu bisa bermalas-malasan.

· Belum lagi risiko dicibir orang, keluarga, mertua dll ketika baru merintis bisnis… dibilang gak punya pekerjaan tetap lah… pekerjaan ga jelas lah.. penghasilan ga jelas.. malu-malu-in lah.. hayo apa lagi?

– Tapi kan penghasilan banyak ? perlu diralat , bukan penghasilan banyak tapi beban / tanggungan yang banyak. ya, karena kita harus menanggung beban penghasilan staff dan tim kita, adapun resiko profit keuntungan bisnis kita habis untuk menutup biaya operasional dan kita enggak kebagian sedikitpun profitnya padahal waktu dan tenaga sudah kita curahkan seutuhnya.

Keempat : Terima Konsekuensi

· Masuk jadi tentara trus mengeluh.. “gimana sih suruh lari 10km setiap hari! Emangnya ga capek!”.. “Ah, bapak/ibu sih yang maksa jadi tentara! Udah saya bilang saya ga suka! Pegel-pegel nih latihannya!”

· Masuk jadi dokter juga mengeluh… “gilak… tiap hari harus liatin darah… harus deket-deket sama orang-orang kusta, orang kudisan, exim… mana gw tahan..”.. “gara-gara siapa nih?”

· kira-kira begitulah kalo salah pilih menjadi pengusaha… terdengar seperti anak kecil ya? Ya begitulah seharusnya anda melihat diri anda ketika anda mengeluh. Ngerasa salah jalan? Belum telat kok untuk pindah haluan, tapi satu yang pasti : gentle donk sama pilihan sendiri! Jangan mengeluh! Apalagi nyalah-nyalahin orang lain dan nyalahin Alloh, naudzubillah

Jadi, mohon maaf, saya agak kurang sepakat jika menyalahkan komunitas. Plis, jangan biasakan BEJ (blame, excuse, justify). Biasakan untuk menyalahkan diri sendiri.

Kesimpulan

Menjadi pengusaha adalah pilihan hidup dengan segala risiko nya (baik untung besar ataupun bangkrut). Jangan pernah menyalahkan orang-orang di sekitar anda, ataupun komunitas yang meng-encourage anda untuk resign. Mereka ga salah. Bahkan harusnya kita berterima kasih. Niat mereka juga untuk kebaikan kita juga. Lebih banyak introspeksi diri.

Mau jadi pengusaha gak punya modal ? sekarang jaman sudah canggih, percaya gak percaya saat awal mulai usaha awwsport.com modal hanya 100rb karena awal usaha orang tua tidak merestui, tapi sekarang sudah jalan 2 tahun alhamdulillah masih 7P = pergi pagi pulang petang penghasilan pas-passan. pas buat bayar kuliah, pas buat bayar karyawan, pas buat tabungan haji dan umroh dan pas buat yang lain-lain.

Tiap orang mungkin berbeda-beda, saya sendiri sih benar-benar sudah “bakar kapal”.. jadi insya allah sampai saat ini belum pernah ada pikiran untuk menjadi karyawan. Jauh-jauh saya buang pikiran itu… karena jalur entrepreneur adalah jalan saya.. disinilah aktualisasi saya.. saya akan tetap di jalur ini, walau saya harus menjadi penjualan pakaian. Saya turunkan gaya hidup (jangan tiru prinsip ini jika tidak sesuai dengan anda)

Tapi lebih dari itu… kita harus bermimpi mengisi daftar 10 besar orang-orang terkaya di Indonesia, bahkan di dunia. Karena itu, teruslah bergerak. Teruslah berinovasi. Teruslah mengeluarkan karya-karya terbaik!

Ingat pesan mbah Kiyosaki, dari income jangan langsung keluar menjadi expenses atau liability.. income masuk dulu ke asset yang menghasilkan passive income. Yang dengan passive income itu baru kita keluarkan untuk expenses atau liability.

Nikmati semua proses sebagai ibadah. Ingat, selama kita istiqomah (ga nyerempet-nyerempet yang haram) maka kita selalu ada di jalur kemenangan…

Terakhir mohon maaf kalo ada salah-salah kata ataupun menyinggung… tidak ada maksud lain selain untuk kebaikan kita semua…

Sumber :

AwwSport

DistroHaydar

Adzan101 Retire Young Retire Rich, Pengusaha Muda dengan Idealisme

#Inspirasi